Sepanjang yang saya baca selama ikutan ngeblog, tak pernah surut bahkan semakin gencar kata-kata, ‘cara cepat jadi kaya’, ‘cara mudah dapat duit’, dan lain-lain kalimat yang senada. Padahal kalau saya baca tulisannya secara keseluruhan, mereka mengakui bahwa tidak ada yang instan dalam berbisnis. Sangat lengkap mereka mempresentasikan apa yang menjadi komoditinya, tapi saya merasa ada sesuatu yang belum tergambar di sana.
Satu ilustrasi yang semoga bisa anda komparasikan dengan bidang Anda :
Dua orang siswa Amir dan Badu, sama-sama anak yang baik dan pintar di kelasnya. mereka selalu meraih prestasi-prestasi tertinggi. Namun di benak Badu terbesit suatu keinginan untuk menggeser posisi amir sebagai ranking pertama, maka dengan berapi-api badu menggunakan siasatnya. Dia membuat catatan-catatan kecil yang dia gunakan dalam test.
Ternyata memang benar, Badu sekarang menjadi ranking pertama dan Amir turun menempati posisi kedua.
Kelihatannya biasa saja peristiwa tersebut, namun bila kita amati lebih dalam ada satu perubahan dan kejanggalan yang bisa kita tangkap. Amir berusaha mempertahankan prestasinya dengan menambah frekwensi belajarnya, namun dia masih tertinggal oleh usaha Badu dengan catatan-catatan kecilnya.
Badu memang anak yang pandai, baik, bahkan tanpa dia menggunakan catatan-catatan kecilpun dia akan mampu menggantikan Amir di posisi pertama, kalau saja dia juga memperbanyak belajarnya. Tapi demi keinginannya yang kuat, Badu rela melupakan sesuatu yang mestinya menjadi salah satu dasar kesuksesan yang hakiki.
Dengan Badu menjadi ranking pertama, apakah berarti Badu sukses???? YA…. tapi kalau mendengar jawaban yang sebenarnya dari hati anda, setelah membaca ilustrasi di atas, saya yakin, anda akan meragukan kesuksesan Badu. Lalu kalau kita bertanya kepada Badu, apakah kamu merasa puas dengan kesuksesan kamu??? walau dengan tidak sepenuh hati dia akan menjawab YA… saya puas. Bayangkan kalau Anda menjadi Badu, pasti akan merasakan satu pertentangan antara kata yang diucapkan di bibir, dengan teriakan yang keluar dari hatinya.
Anda coba mengambil contoh-contoh lain yang ada di sekitar anda, kita amati bagaimana kesuksesan mereka, apa usaha yang dijalankan, bagaimana dia menjalankan usahanya, dan bagaimana suasana kehidupan rumahtangganya. Akan tampak perbedaan besar antara mereka yang sukses dengan mengikutsertakan hati nurani, dengan mereka yang sukses dengan mengesampingkan hati nurani.
Untuk meraih kesuksesan, kita memang membutuhkan keinginan yang kuat, semangat yang membara, usaha yang gigih. Tapi perlu kita ingat, bahwa hal-hal tersebut, bisa mengikis dan membuat kita melupakan apa kata hati nurani, dan itu terjadi secara tidak kita sadari. Padahal antara aktivitas secara fisik dan hati nurani saling mendukung, saling melengkapi. Jika salah satu tidak tampil atau terisihkan, terkalahkan, maka kesuksesan yang sebenarnya tidak akan diraih.
Dengan selalu mendengarkan apa kata hati nurani, akan terdeteksi positif atau negatifkah niat kita. Dia akan menjadi bahan bakar untuk lebih menggelorakan semangat kita. Dia akan menjadi motivator agar usaha kita lebih gigih lagi.
Hal ini tidak hanya terjadi di dunia pendidikkan atau bisnis saja, tapi di semua lingkup, pemerintahan, politik, ekonomi, seni, budaya, dll, dan akan menimbulkan efek pada diri sendiri maupun masyarakat.
Bahkan dalam menulis dan membaca sebuah artikelpun, hati nurani kita akan bicara, memberikan tanggapan terhadap apa yang kita tulis atau kita baca.
Satu ilustrasi yang semoga bisa anda komparasikan dengan bidang Anda :
Dua orang siswa Amir dan Badu, sama-sama anak yang baik dan pintar di kelasnya. mereka selalu meraih prestasi-prestasi tertinggi. Namun di benak Badu terbesit suatu keinginan untuk menggeser posisi amir sebagai ranking pertama, maka dengan berapi-api badu menggunakan siasatnya. Dia membuat catatan-catatan kecil yang dia gunakan dalam test.
Ternyata memang benar, Badu sekarang menjadi ranking pertama dan Amir turun menempati posisi kedua.
Kelihatannya biasa saja peristiwa tersebut, namun bila kita amati lebih dalam ada satu perubahan dan kejanggalan yang bisa kita tangkap. Amir berusaha mempertahankan prestasinya dengan menambah frekwensi belajarnya, namun dia masih tertinggal oleh usaha Badu dengan catatan-catatan kecilnya.
Badu memang anak yang pandai, baik, bahkan tanpa dia menggunakan catatan-catatan kecilpun dia akan mampu menggantikan Amir di posisi pertama, kalau saja dia juga memperbanyak belajarnya. Tapi demi keinginannya yang kuat, Badu rela melupakan sesuatu yang mestinya menjadi salah satu dasar kesuksesan yang hakiki.
Dengan Badu menjadi ranking pertama, apakah berarti Badu sukses???? YA…. tapi kalau mendengar jawaban yang sebenarnya dari hati anda, setelah membaca ilustrasi di atas, saya yakin, anda akan meragukan kesuksesan Badu. Lalu kalau kita bertanya kepada Badu, apakah kamu merasa puas dengan kesuksesan kamu??? walau dengan tidak sepenuh hati dia akan menjawab YA… saya puas. Bayangkan kalau Anda menjadi Badu, pasti akan merasakan satu pertentangan antara kata yang diucapkan di bibir, dengan teriakan yang keluar dari hatinya.
Anda coba mengambil contoh-contoh lain yang ada di sekitar anda, kita amati bagaimana kesuksesan mereka, apa usaha yang dijalankan, bagaimana dia menjalankan usahanya, dan bagaimana suasana kehidupan rumahtangganya. Akan tampak perbedaan besar antara mereka yang sukses dengan mengikutsertakan hati nurani, dengan mereka yang sukses dengan mengesampingkan hati nurani.
Untuk meraih kesuksesan, kita memang membutuhkan keinginan yang kuat, semangat yang membara, usaha yang gigih. Tapi perlu kita ingat, bahwa hal-hal tersebut, bisa mengikis dan membuat kita melupakan apa kata hati nurani, dan itu terjadi secara tidak kita sadari. Padahal antara aktivitas secara fisik dan hati nurani saling mendukung, saling melengkapi. Jika salah satu tidak tampil atau terisihkan, terkalahkan, maka kesuksesan yang sebenarnya tidak akan diraih.
Dengan selalu mendengarkan apa kata hati nurani, akan terdeteksi positif atau negatifkah niat kita. Dia akan menjadi bahan bakar untuk lebih menggelorakan semangat kita. Dia akan menjadi motivator agar usaha kita lebih gigih lagi.
Hal ini tidak hanya terjadi di dunia pendidikkan atau bisnis saja, tapi di semua lingkup, pemerintahan, politik, ekonomi, seni, budaya, dll, dan akan menimbulkan efek pada diri sendiri maupun masyarakat.
Bahkan dalam menulis dan membaca sebuah artikelpun, hati nurani kita akan bicara, memberikan tanggapan terhadap apa yang kita tulis atau kita baca.
