Cerpen Keluarga Sedih ~ Kalau sebelumnya blog dunia remaja sudah memposting cerpen kejujuran hati, kali ini mari kita sama-sama membaca cerpen dengan judul keluarga sedih, tidak kalah dengan cerpen sedih yang pernah admin publish sebelumnya.

Rumahku diintai orang. Itu kesimpulan yang kudapat ketika untuk ketiga kalinya kutemukan orang yang sama, pada saat yang sama dan dari tempat yang sama sedang memandang berlama-lama ke arah rumahku. Dia seorang laki-laki setengah baya. Kumis dan jenggotnya dibiarkan tak terawat. Memakai pakaian lusuh dan sebuah topi yang tak kalah kumal.
Aku tak tahu apa sebenarnya yang dilakukannya atau apa yang diinginkannya, tapi dia selalu ada di sudut taman di seberang rumahku pada saat menjelang senja.
"Hati-hati, Nik. Siapa tahu dia orang jahat yang mau merampok rumah kita," kata Mbak Laras waktu kuceritakan penemuanku padanya.
"Aku nggak tahu, Mbak. Kalau dilihat sepintas sih sepertinya dia cuma seorang gelandangan yang tidak berbahaya."
"Tapi kamu bilang dia selalu memandang kemari. Mungkin saja dia sedang mengamat-amati kapan saatnya rumah ini kosong. Wah, celaka kita, Nik. Mana Mama pulangnya masih tiga hari lagi," Mbak Laras kelihatan panik, "Apa nggak sebaiknya kita minta Oom Seno atau Mas Guntur menemani kita sampai Mama pulang?"
"Aku nggak mau merepotkan mereka," bantahku, "Yang penting kita bertindak hati-hati. Kunci semua pintu dan jendela. Dan jangan lupa berdoa biar Tuhan melindungi kita."
Mbak Laras akhirnya mengangguk setuju.
Ternyata malam itu dia bukan hanya mengunci pintu tapi juga menyalakan semua lampu, termasuk lampu dapur dan kamar mandi. Semalaman rumah dibiarkannya dalam keadaan terang benderang. Rupanya itupun dianggap belum cukup, ia masih menyediakan sebuah pentungan besar di samping tempat tidurnya. Aku mencoba memahami meski geli setengah mati. Nyatanya sampai pagi tak terjadi apa-apa.
Waktu turun ke ruang makan untuk sarapan, kulihat mata Mbak Laras merah seperti kurang tidur. "Gila, Nik. Aku hampir nggak bisa tidur semalaman. Ada suara aneh sedikit saja hatiku langsung gedebak-gedebuk tak karuan," katanya setengah mengeluh.
Aku tertawa dibuatnya. "Mbak terlalu berlebihan sih. Aku jadi menyesal menceritakan tentang laki-laki itu pada Mbak."
"Hari ini sebaiknya kita nggak membiarkan rumah kosong, Nik. Kamu kuliah pagi atau siang?"
"Siang," sahutku sambil mengoleskan mentega di atas roti.
"Kebetulan. Hari ini aku masuk pagi, jadi kita bisa bergiliran jaga rumah."
Aku mengangguk.
Setelah Mbak Laras berangkat kurapikan meja dan kuangkut semua piring-piring kotor ke belakang untuk dicuci. Kami memang tidak pernah punya pembantu. Semua pekerjaan rumah dibagi untuk dikerjakan bertiga. Aku, Mbak Laras dan Mama. Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana Mama bisa mengerjakan semua itu sendirian waktu Aku dan Mbak Laras masih kecil.
Mungkin aku lupa bercerita kalau aku tidak pernah melihat atau mengenal Papaku. Mama bilang Papa meninggal waktu aku masih dalam kandungan Mama. Dia seorang pilot. Laut mengubur jasadnya bersama puing-puing pesawatnya yang jatuh karena kecelakaan. Itu sebabnya kami hanya bertiga di rumah.
Yang aku ingat Mama adalah seorang pekerja keras. Usaha jahit kecil-kecilan yang semula dirintisnya untuk mencukupi biaya hidup kami, sekarang telah berkembang menjadi sebuah butik yang cukup besar. Mama juga tetap setia pada almarhum Papa. Tak pernah berpikir untuk mencari penggantinya meski aku dan Mbak Laras ikhlas sekalipun. Padahal kadang-kadang aku ingin juga merasakan seperti apa punya Papa. Biarpun cuma Papa tiri.
Piring terakhir telah selesai kucuci. Kuputuskan untuk melanjutkan kerjaku dengan memotong rumput di halaman yang mulai tinggi. Tapi baru saja hendak mulai bekerja, instingku mengatakan bahwa aku tengah diawasi. Reflek aku menoleh ke seberang jalan. Ternyata benar. Laki-laki itu ada di sana lagi. Jadi sekarang dia juga datang di siang hari?
Kubanting gunting di tanganku dengan kesal. Rasa penasaran membuatku tak berpikir panjang lagi. Aku langsung menyeberang dan menghampiri laki-laki itu. Dia kelihatan terkejut melihatku.
"Bapak siapa?" tanyaku tanpa basa-basi. "Kenapa Bapak selalu mengawasi kami?"
Ditengah kekagetannya laki-laki itu masih memaksakan diri untuk tersenyum. Entah kenapa saat itu juga aku langsung merasa yakin bahwa ia bukan orang jahat seperti yang ditakutkan Mbak Laras.
"Apa mau Bapak sebenarnya?" tanyaku lagi.
Laki-laki itu menggeleng perlahan. "Maafkan saya, Nak. Saya tidak bermaksud mengganggu kalian. Tapi kalian mengingatkan saya pada orang-orang yang saya cintai." Suaranya mengandung kesedihan yang begitu dalam.
"Siapa?" aku jadi tambah penasaran.
"Istri dan anak-anak saya. Sudah lama sekali saya kehilangan mereka."
Aku mulai mengerti. "Apa mereka meninggal?" tanyaku hati-hati.
"Tidak. Mereka masih hidup. Anak saya yang bungsu mungkin sudah sebaya kamu sekarang. Tapi saya tidak bisa menjumpai mereka lagi."
"Kenapa?"
Kudengar ia menghela nafas dalam. Matanya kelihatan beriak. Sepertinya ia tengah menyimpan beban yang begitu berat yang membuatnya kelihatan lebih tua dari usianya yang sebenarnya. "Saya pernah melakukan sebuah kesalahan di masa muda. Itu yang membuat saya kehilangan mereka," ujarnya masih dengan nada sedih.
"Saya rasa semua orang juga pernah berbuat salah."
"Tapi kesalahan saya tak termaafkan."
Rasa ibaku tiba-tiba menyeruak. "Kalau Bapak tidak keberatan, saya ingin mendengar cerita Bapak lebih banyak. Bagaimana kalau sambil minum kopi di rumah saya?"
Ia menggeleng cepat. "Saya tidak berani menginjak rumahmu. Lebih baik kita duduk di sana," ia menunjuk sebuah bangku kayu di tengah taman.
"Dulu saya pernah punya keluarga yang bahagia," katanya mengawali ceritanya, "Saya punya seorang istri yang cantik, seorang putri yang manis, dan kami sedang menantikan kehadiran anak kedua. Tapi kemudian saya termakan bujukan setan. Saya berkenalan dengan bajingan-bajingan yang menyeret saya melakukan perbuatan terkutuk. Merampok dan membunuh. Kesalahan yang sekali itulah yang membuat kebahagiaan kami hancur tak bersisa. Saya akhirnya tertangkap dan pengadilan menjatuhi saya hukuman seumur hidup."
Aku geleng-geleng kepala. "Bagaimana dengan anak dan istri Bapak?"
"Anak saya yang kedua lahir sebulan setelah saya dipenjara. Perempuan. Sayang saya tidak pernah sempat melihatnya. Beberapa tahun setelah itu istri saya masih kerap datang menengok. Tapi kemudian ia menghilang. Saya paham, tak ada lagi yang bisa ia harapkan dari saya."
"Akhirnya Bapak dibebaskan?"
"Karena kelakuan saya yang baik selama dalam penjara, saya menerima pengampunan. Begitu keluar yang pertama saya lakukan adalah mencari istri dan anak saya. Tapi ternyata mereka sudah pindah."
"Bapak tidak menemukan mereka?"
Laki-laki itu menatapku dengan sorot aneh lalu menggeleng. "Kalaupun bertemu, saya tidak yakin mereka masih mau menerima saya."
Aku tidak tahu harus berkata apa. Ada keinginan untuk menghibur, tapi tak tahu juga kata-kata penghiburan yang tepat. Akhirnya aku hanya berdiam diri membiarkan laki-laki itu terus menatapku penuh kerinduan. Mungkin dianggapnya aku ini anaknya yang hilang. Biar sajalah kalau itu bisa meringankan sedikit bebannya.
"Kamu anak baik," katanya beberapa saat kemudian. "Ceritakan padaku tentang keluargamu. Apa Ayahmu masih ada?"
"Sudah meninggal. Dia seorang pilot. Pesawatnya jatuh dilaut dan ia tewas di sana."
"Apa Ibumu tidak menikah lagi?" ada getar aneh dalam suaranya ketika menanyakan itu. Tapi aku tak terlalu perduli.
"Mama terlalu mencintai Papa. Tapi saya tak heran. Dari ceritanya saya tahu Papa seorang yang pantas untuk disetiai."
Mata laki-laki itu bersinar aneh. Ia menghela nafas berat lalu bangkit. "Lebih baik saya pergi sekarang," katanya.
"Bapak mau kemana?"
"Kemana saja kaki ini mengajak melangkah," ia tersenyum pahit.
"Apakah kita akan bertemu lagi?"
"Entahlah. Mungkin juga tidak," matanya menyapuku sekali lagi.
Aku merasa tenggorokanku kering tiba-tiba. Caranya menatapku menimbulkan desir yang aneh dalam dadaku.
"Tunggu!" seruku melihat laki-laki itu mulai melangkah pergi, "Boleh saya tahu nama Bapak?"
Ia menggeleng tegas. "Lebih baik tidak. Anggap saja kamu tidak pernah bertemu denganku." Setelah itu ia terus berjalan tanpa menoleh lagi.
Aneh sekali, seperti ada sesuatu yang hilang dari hatiku begitu sosoknya lenyap dari pandangan. Begitu juga ketika besok dan besoknya lagi aku tak pernah menemukan lagi laki-laki itu di seberang jalan. Mungkin ia tengah meneruskan pencariannya. Aku hanya bisa berdoa supaya Tuhan memberinya jalan yang terbaik.
Berminggu-minggu lewat. Aku hampir melupakan laki-laki aneh itu ketika tanpa terduga dia muncul lagi. Kali ini sebagai pahlawan yang menyelamatkanku dari para penjahat.
Aku memang salah. Pulang terlalu larut tanpa memperhitungkan jalanan menuju rumahku yang selalu lengang selepas maghrib. Lantas beberapa orang berandal mencegatku, memaksaku menyerahkan uang dan perhiasan yang kupakai. Tidak cukup hanya itu, mereka juga mulai bersikap kurang ajar padaku. Untung pada saat yang tepat muncul seseorang yang dengan sekali gebrak saja sanggup membuat para berandal itu tunggang langgang ketakutan. Ternyata dia, laki-laki itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya cemas.
Aku menggeleng, menatapnya penuh terima kasih.
"Lain kali berhati-hatilah. Jangan pulang terlalu larut, karena tidak setiap saat saya bisa menolongmu. Nah, sekarang pulanglah!" Ia berbalik hendak pergi.
"Sebentar, Pak!" cegahku, "Apa Bapak sudah menemukan anak dan istri Bapak?"
"Saya sudah berhenti mencari," jawabnya singkat.
"Apa ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk membantu Bapak?"
Ia tersenyum sambil menggeleng. "Mereka mungkin sudah hidup bahagia sekarang. Saya tidak ingin mengusiknya lagi. Anggap saja kehilangan ini sebagai hukuman atas dosa-dosa saya pada mereka," ia menghela nafas sebelum melanjutkan, "Saya sudah cukup bersyukur bisa mengenalmu, anak baik. Kalau kamu tak keberatan saya ingin menemuimu sekali-kali, untuk melepas kerinduan saya pada anak saya."
"Tentu saja boleh," sahutku cepat, "Bapak boleh datang ke rumah kapan saja."
"Terima kasih. Sekarang pulanglah. Mamamu mungkin sudah menunggu."
Aku terpaksa mengangguk. Sebetulnya masih banyak yang ingin kuketahui, tapi dia sepertinya tak suka terlalu banyak ditanyai. Namanya saja sampai saat ini tetap ia rahasiakan.
"Mungkin dia tidak ingin keberadaannya diketahui banyak orang," komentar Mbak Laras waktu kuceritakan keherananku itu padanya. "Mungkin saja dia itu bukannya mendapat pengampunan tapi kabur dari penjara."
"Mbak jangan berprasangka buruk terus dong," protesku. "Kalau memang dia kabur, mestinya dia bersembunyi dan bukan keluyuran di jalan seperti sekarang."
"Aku cuma mengingatkanmu agar tetap berhati-hati. Sekarang ini orang bisa berbuat kejahatan dengan berbagai cara. Jangan sampai kamu ditipunya."
Aku mencibir. Mbak-ku tersayang ini agaknya terlalu banyak membaca cerita kriminal. Jadi selalu curiga pada semua orang.
Tapi Mama rupanya punya usul yang lebih cemerlang. Ia menyuruhku mengundang laki-laki itu untuk makan malam dirumah. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolongku.
Aku spontan menyetujuinya. Meski tak tahu keberadaan laki-laki itu saat ini, tapi aku yakin dia akan mencariku dalam beberapa hari ini.
Dan feelingku memang tak keliru. Dia datang dua hari setelah itu. Berdiri di sudut taman seperti biasa. Untung aku melihatnya waktu baru pulang kuliah. Segera saja aku menyeberang menghampirinya.
"Pulang kuliah?" ia menyapaku lebih dulu.
Aku mengiakan. "Bapak sudah lama disini? Kenapa tidak ke rumah saja?"
"Saya tidak ingin membuat kaget keluargamu."
"Mereka sudah tahu tentang Bapak. Mama bahkan mengundang Bapak untuk makan malam bersama. Kami semua ingin berterima kasih karena Bapak telah menolong saya waktu itu."
"Itu hanya suatu kebetulan. Untuk apa dibesar-besarkan? Saya bukan seorang pahlawan."
"Apapun kata Bapak, saya tetap ingin mengundang Bapak. Bagaimana kalau kita masuk sekarang? Kebetulan Mama ada di rumah."
Wajahnya tiba-tiba berubah. Matanya memandang gugup ke arah rumah.
"Kenapa, Pak?" tanyaku heran.
Ia tak menjawab. Seperti tengah berpikir keras. Tangannya mengepal-ngepal gelisah.
Beberapa saat kemudian baru ia berkata dengan terpatah-patah, "Kamu... sungguh-sungguh ingin saya... bertemu.... Mamamu?"
"Tentu saja," anggukku.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu... yang tidak kamu inginkan?"
"Sesuatu apa?"
"Misalnya... eh... Mamamu... mengusir saya?"
Aku tertawa. "Bapak tidak punya alasan untuk takut. Bukankah tadi saya katakan Mama sendiri yang mengundang Bapak. Ayolah, kita ke sana sekarang."
Ia berpikir lagi beberapa saat sebelum akhirnya mengikuti langkahku. Topinya dibenamkan lebih dalam hingga menutupi setengah wajahnya. Benar-benar laki-laki aneh, gumamku dalam hati.
Kebetulan Mama sendiri yang membukakan pintu. Langsung kuperkenalkan dia pada Mama. "Ini Bapak yang kemarin menolong Niken, Ma."
Mama tersenyum dan mengulurkan tangan. Tapi laki-laki itu tetap menunduk dalam-dalam seperti ingin menyembunyikan diri di balik topinya. Akhirnya Mama menarik kembali tangannya. "Mari masuk, Pak," ajaknya serba salah.
Perlahan laki-laki itu mengangkat wajah, lalu membuka topinya. Begitu mereka bertatapan kulihat wajah Mama berubah, seperti tengah berusaha mengenali.
"Apa kabar, Hes?" laki-laki itu berkata pelan.
Mama tiba-tiba terpekik kaget lalu menutup mulut dengan kedua tangannya. Wajahnya langsung pucat seperti kertas. Aku menatapnya tak mengerti. Ada apa ini?
"Mas Bambang?" kudengar suara Mama gemetar seperti menahan gejolak yang amat sangat di dadanya.
Laki-laki itu mengangguk. "Maaf telah mengagetkanmu. Tentu kamu tak mengira akan melihatku lagi. Terus terang tadinya aku juga tak berniat menemui kalian. Berhari-hari aku hanya berani memandang kalian dari jauh. Aku tak ingin mengusik ketentraman kalian. Apalagi setelah Niken bercerita tentang Papanya yang sudah meninggal."
Butir-butir air mata kontan meluncur mengaliri pipi Mama. "Maaf, Mas. Aku terpaksa mengarang cerita itu. Kamu tentu paham, tak mudah menjelaskannya pada mereka saat itu."
Laki-laki itu tersenyum getir. "Aku mengerti, Hes. Aku berterima kasih kamu telah membesarkan anak-anak kita dengan baik."
Blarrrrr!!!! ucapan terakhir itu seperti gelegar petir yang maha dahsyat di telingaku. Aku tersuruk beberapa langkah ke belakang. Perlu beberapa saat untuk meyakinkan diri bahwa aku tadi tidak salah dengar.
"Nik!" Mama memburuku, memelukku sebelum aku jatuh terduduk.
Kucubiti pergelangan tanganku. Sakit. Berarti ini bukan mimpi.
Duh, Gusti.... lelakon macam apa ini? Jadi ternyata anak yang dicarinya itu adalah aku? Jadi dia itu...
Pandanganku jadi nanar. Tulang-tulangku seperti baru dicopoti. Lemas. Khayalanku tentang seorang Papa yang terbang gagah di balik awan sekarang hancur berantakan. Ternyata Papaku cuma seorang perampok yang menghabiskan belasan tahun hidupnya di balik jeruji penjara.
Teman, jika kau jadi aku... apa yang akan kau lakukan sekarang?
Oleh : drackpack.multiply.com
**************
Jika kamu sudah selesai membaca "Cerpen Keluarga Sedih" di atas, sekarang saya mengajak kamu untuk membaca puisi air mata cinta dan puisi paling menyentuh hati dari blog Dunia Remaja Uptodate!
Cerpen Keluarga Sedih

Rumahku diintai orang. Itu kesimpulan yang kudapat ketika untuk ketiga kalinya kutemukan orang yang sama, pada saat yang sama dan dari tempat yang sama sedang memandang berlama-lama ke arah rumahku. Dia seorang laki-laki setengah baya. Kumis dan jenggotnya dibiarkan tak terawat. Memakai pakaian lusuh dan sebuah topi yang tak kalah kumal.
Aku tak tahu apa sebenarnya yang dilakukannya atau apa yang diinginkannya, tapi dia selalu ada di sudut taman di seberang rumahku pada saat menjelang senja.
"Hati-hati, Nik. Siapa tahu dia orang jahat yang mau merampok rumah kita," kata Mbak Laras waktu kuceritakan penemuanku padanya.
"Aku nggak tahu, Mbak. Kalau dilihat sepintas sih sepertinya dia cuma seorang gelandangan yang tidak berbahaya."
"Tapi kamu bilang dia selalu memandang kemari. Mungkin saja dia sedang mengamat-amati kapan saatnya rumah ini kosong. Wah, celaka kita, Nik. Mana Mama pulangnya masih tiga hari lagi," Mbak Laras kelihatan panik, "Apa nggak sebaiknya kita minta Oom Seno atau Mas Guntur menemani kita sampai Mama pulang?"
"Aku nggak mau merepotkan mereka," bantahku, "Yang penting kita bertindak hati-hati. Kunci semua pintu dan jendela. Dan jangan lupa berdoa biar Tuhan melindungi kita."
Mbak Laras akhirnya mengangguk setuju.
Ternyata malam itu dia bukan hanya mengunci pintu tapi juga menyalakan semua lampu, termasuk lampu dapur dan kamar mandi. Semalaman rumah dibiarkannya dalam keadaan terang benderang. Rupanya itupun dianggap belum cukup, ia masih menyediakan sebuah pentungan besar di samping tempat tidurnya. Aku mencoba memahami meski geli setengah mati. Nyatanya sampai pagi tak terjadi apa-apa.
Waktu turun ke ruang makan untuk sarapan, kulihat mata Mbak Laras merah seperti kurang tidur. "Gila, Nik. Aku hampir nggak bisa tidur semalaman. Ada suara aneh sedikit saja hatiku langsung gedebak-gedebuk tak karuan," katanya setengah mengeluh.
Aku tertawa dibuatnya. "Mbak terlalu berlebihan sih. Aku jadi menyesal menceritakan tentang laki-laki itu pada Mbak."
"Hari ini sebaiknya kita nggak membiarkan rumah kosong, Nik. Kamu kuliah pagi atau siang?"
"Siang," sahutku sambil mengoleskan mentega di atas roti.
"Kebetulan. Hari ini aku masuk pagi, jadi kita bisa bergiliran jaga rumah."
Aku mengangguk.
Setelah Mbak Laras berangkat kurapikan meja dan kuangkut semua piring-piring kotor ke belakang untuk dicuci. Kami memang tidak pernah punya pembantu. Semua pekerjaan rumah dibagi untuk dikerjakan bertiga. Aku, Mbak Laras dan Mama. Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana Mama bisa mengerjakan semua itu sendirian waktu Aku dan Mbak Laras masih kecil.
Mungkin aku lupa bercerita kalau aku tidak pernah melihat atau mengenal Papaku. Mama bilang Papa meninggal waktu aku masih dalam kandungan Mama. Dia seorang pilot. Laut mengubur jasadnya bersama puing-puing pesawatnya yang jatuh karena kecelakaan. Itu sebabnya kami hanya bertiga di rumah.
Yang aku ingat Mama adalah seorang pekerja keras. Usaha jahit kecil-kecilan yang semula dirintisnya untuk mencukupi biaya hidup kami, sekarang telah berkembang menjadi sebuah butik yang cukup besar. Mama juga tetap setia pada almarhum Papa. Tak pernah berpikir untuk mencari penggantinya meski aku dan Mbak Laras ikhlas sekalipun. Padahal kadang-kadang aku ingin juga merasakan seperti apa punya Papa. Biarpun cuma Papa tiri.
Piring terakhir telah selesai kucuci. Kuputuskan untuk melanjutkan kerjaku dengan memotong rumput di halaman yang mulai tinggi. Tapi baru saja hendak mulai bekerja, instingku mengatakan bahwa aku tengah diawasi. Reflek aku menoleh ke seberang jalan. Ternyata benar. Laki-laki itu ada di sana lagi. Jadi sekarang dia juga datang di siang hari?
Kubanting gunting di tanganku dengan kesal. Rasa penasaran membuatku tak berpikir panjang lagi. Aku langsung menyeberang dan menghampiri laki-laki itu. Dia kelihatan terkejut melihatku.
"Bapak siapa?" tanyaku tanpa basa-basi. "Kenapa Bapak selalu mengawasi kami?"
Ditengah kekagetannya laki-laki itu masih memaksakan diri untuk tersenyum. Entah kenapa saat itu juga aku langsung merasa yakin bahwa ia bukan orang jahat seperti yang ditakutkan Mbak Laras.
"Apa mau Bapak sebenarnya?" tanyaku lagi.
Laki-laki itu menggeleng perlahan. "Maafkan saya, Nak. Saya tidak bermaksud mengganggu kalian. Tapi kalian mengingatkan saya pada orang-orang yang saya cintai." Suaranya mengandung kesedihan yang begitu dalam.
"Siapa?" aku jadi tambah penasaran.
"Istri dan anak-anak saya. Sudah lama sekali saya kehilangan mereka."
Aku mulai mengerti. "Apa mereka meninggal?" tanyaku hati-hati.
"Tidak. Mereka masih hidup. Anak saya yang bungsu mungkin sudah sebaya kamu sekarang. Tapi saya tidak bisa menjumpai mereka lagi."
"Kenapa?"
Kudengar ia menghela nafas dalam. Matanya kelihatan beriak. Sepertinya ia tengah menyimpan beban yang begitu berat yang membuatnya kelihatan lebih tua dari usianya yang sebenarnya. "Saya pernah melakukan sebuah kesalahan di masa muda. Itu yang membuat saya kehilangan mereka," ujarnya masih dengan nada sedih.
"Saya rasa semua orang juga pernah berbuat salah."
"Tapi kesalahan saya tak termaafkan."
Rasa ibaku tiba-tiba menyeruak. "Kalau Bapak tidak keberatan, saya ingin mendengar cerita Bapak lebih banyak. Bagaimana kalau sambil minum kopi di rumah saya?"
Ia menggeleng cepat. "Saya tidak berani menginjak rumahmu. Lebih baik kita duduk di sana," ia menunjuk sebuah bangku kayu di tengah taman.
"Dulu saya pernah punya keluarga yang bahagia," katanya mengawali ceritanya, "Saya punya seorang istri yang cantik, seorang putri yang manis, dan kami sedang menantikan kehadiran anak kedua. Tapi kemudian saya termakan bujukan setan. Saya berkenalan dengan bajingan-bajingan yang menyeret saya melakukan perbuatan terkutuk. Merampok dan membunuh. Kesalahan yang sekali itulah yang membuat kebahagiaan kami hancur tak bersisa. Saya akhirnya tertangkap dan pengadilan menjatuhi saya hukuman seumur hidup."
Aku geleng-geleng kepala. "Bagaimana dengan anak dan istri Bapak?"
"Anak saya yang kedua lahir sebulan setelah saya dipenjara. Perempuan. Sayang saya tidak pernah sempat melihatnya. Beberapa tahun setelah itu istri saya masih kerap datang menengok. Tapi kemudian ia menghilang. Saya paham, tak ada lagi yang bisa ia harapkan dari saya."
"Akhirnya Bapak dibebaskan?"
"Karena kelakuan saya yang baik selama dalam penjara, saya menerima pengampunan. Begitu keluar yang pertama saya lakukan adalah mencari istri dan anak saya. Tapi ternyata mereka sudah pindah."
"Bapak tidak menemukan mereka?"
Laki-laki itu menatapku dengan sorot aneh lalu menggeleng. "Kalaupun bertemu, saya tidak yakin mereka masih mau menerima saya."
Aku tidak tahu harus berkata apa. Ada keinginan untuk menghibur, tapi tak tahu juga kata-kata penghiburan yang tepat. Akhirnya aku hanya berdiam diri membiarkan laki-laki itu terus menatapku penuh kerinduan. Mungkin dianggapnya aku ini anaknya yang hilang. Biar sajalah kalau itu bisa meringankan sedikit bebannya.
"Kamu anak baik," katanya beberapa saat kemudian. "Ceritakan padaku tentang keluargamu. Apa Ayahmu masih ada?"
"Sudah meninggal. Dia seorang pilot. Pesawatnya jatuh dilaut dan ia tewas di sana."
"Apa Ibumu tidak menikah lagi?" ada getar aneh dalam suaranya ketika menanyakan itu. Tapi aku tak terlalu perduli.
"Mama terlalu mencintai Papa. Tapi saya tak heran. Dari ceritanya saya tahu Papa seorang yang pantas untuk disetiai."
Mata laki-laki itu bersinar aneh. Ia menghela nafas berat lalu bangkit. "Lebih baik saya pergi sekarang," katanya.
"Bapak mau kemana?"
"Kemana saja kaki ini mengajak melangkah," ia tersenyum pahit.
"Apakah kita akan bertemu lagi?"
"Entahlah. Mungkin juga tidak," matanya menyapuku sekali lagi.
Aku merasa tenggorokanku kering tiba-tiba. Caranya menatapku menimbulkan desir yang aneh dalam dadaku.
"Tunggu!" seruku melihat laki-laki itu mulai melangkah pergi, "Boleh saya tahu nama Bapak?"
Ia menggeleng tegas. "Lebih baik tidak. Anggap saja kamu tidak pernah bertemu denganku." Setelah itu ia terus berjalan tanpa menoleh lagi.
Aneh sekali, seperti ada sesuatu yang hilang dari hatiku begitu sosoknya lenyap dari pandangan. Begitu juga ketika besok dan besoknya lagi aku tak pernah menemukan lagi laki-laki itu di seberang jalan. Mungkin ia tengah meneruskan pencariannya. Aku hanya bisa berdoa supaya Tuhan memberinya jalan yang terbaik.
Berminggu-minggu lewat. Aku hampir melupakan laki-laki aneh itu ketika tanpa terduga dia muncul lagi. Kali ini sebagai pahlawan yang menyelamatkanku dari para penjahat.
Aku memang salah. Pulang terlalu larut tanpa memperhitungkan jalanan menuju rumahku yang selalu lengang selepas maghrib. Lantas beberapa orang berandal mencegatku, memaksaku menyerahkan uang dan perhiasan yang kupakai. Tidak cukup hanya itu, mereka juga mulai bersikap kurang ajar padaku. Untung pada saat yang tepat muncul seseorang yang dengan sekali gebrak saja sanggup membuat para berandal itu tunggang langgang ketakutan. Ternyata dia, laki-laki itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya cemas.
Aku menggeleng, menatapnya penuh terima kasih.
"Lain kali berhati-hatilah. Jangan pulang terlalu larut, karena tidak setiap saat saya bisa menolongmu. Nah, sekarang pulanglah!" Ia berbalik hendak pergi.
"Sebentar, Pak!" cegahku, "Apa Bapak sudah menemukan anak dan istri Bapak?"
"Saya sudah berhenti mencari," jawabnya singkat.
"Apa ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk membantu Bapak?"
Ia tersenyum sambil menggeleng. "Mereka mungkin sudah hidup bahagia sekarang. Saya tidak ingin mengusiknya lagi. Anggap saja kehilangan ini sebagai hukuman atas dosa-dosa saya pada mereka," ia menghela nafas sebelum melanjutkan, "Saya sudah cukup bersyukur bisa mengenalmu, anak baik. Kalau kamu tak keberatan saya ingin menemuimu sekali-kali, untuk melepas kerinduan saya pada anak saya."
"Tentu saja boleh," sahutku cepat, "Bapak boleh datang ke rumah kapan saja."
"Terima kasih. Sekarang pulanglah. Mamamu mungkin sudah menunggu."
Aku terpaksa mengangguk. Sebetulnya masih banyak yang ingin kuketahui, tapi dia sepertinya tak suka terlalu banyak ditanyai. Namanya saja sampai saat ini tetap ia rahasiakan.
"Mungkin dia tidak ingin keberadaannya diketahui banyak orang," komentar Mbak Laras waktu kuceritakan keherananku itu padanya. "Mungkin saja dia itu bukannya mendapat pengampunan tapi kabur dari penjara."
"Mbak jangan berprasangka buruk terus dong," protesku. "Kalau memang dia kabur, mestinya dia bersembunyi dan bukan keluyuran di jalan seperti sekarang."
"Aku cuma mengingatkanmu agar tetap berhati-hati. Sekarang ini orang bisa berbuat kejahatan dengan berbagai cara. Jangan sampai kamu ditipunya."
Aku mencibir. Mbak-ku tersayang ini agaknya terlalu banyak membaca cerita kriminal. Jadi selalu curiga pada semua orang.
Tapi Mama rupanya punya usul yang lebih cemerlang. Ia menyuruhku mengundang laki-laki itu untuk makan malam dirumah. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolongku.
Aku spontan menyetujuinya. Meski tak tahu keberadaan laki-laki itu saat ini, tapi aku yakin dia akan mencariku dalam beberapa hari ini.
Dan feelingku memang tak keliru. Dia datang dua hari setelah itu. Berdiri di sudut taman seperti biasa. Untung aku melihatnya waktu baru pulang kuliah. Segera saja aku menyeberang menghampirinya.
"Pulang kuliah?" ia menyapaku lebih dulu.
Aku mengiakan. "Bapak sudah lama disini? Kenapa tidak ke rumah saja?"
"Saya tidak ingin membuat kaget keluargamu."
"Mereka sudah tahu tentang Bapak. Mama bahkan mengundang Bapak untuk makan malam bersama. Kami semua ingin berterima kasih karena Bapak telah menolong saya waktu itu."
"Itu hanya suatu kebetulan. Untuk apa dibesar-besarkan? Saya bukan seorang pahlawan."
"Apapun kata Bapak, saya tetap ingin mengundang Bapak. Bagaimana kalau kita masuk sekarang? Kebetulan Mama ada di rumah."
Wajahnya tiba-tiba berubah. Matanya memandang gugup ke arah rumah.
"Kenapa, Pak?" tanyaku heran.
Ia tak menjawab. Seperti tengah berpikir keras. Tangannya mengepal-ngepal gelisah.
Beberapa saat kemudian baru ia berkata dengan terpatah-patah, "Kamu... sungguh-sungguh ingin saya... bertemu.... Mamamu?"
"Tentu saja," anggukku.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu... yang tidak kamu inginkan?"
"Sesuatu apa?"
"Misalnya... eh... Mamamu... mengusir saya?"
Aku tertawa. "Bapak tidak punya alasan untuk takut. Bukankah tadi saya katakan Mama sendiri yang mengundang Bapak. Ayolah, kita ke sana sekarang."
Ia berpikir lagi beberapa saat sebelum akhirnya mengikuti langkahku. Topinya dibenamkan lebih dalam hingga menutupi setengah wajahnya. Benar-benar laki-laki aneh, gumamku dalam hati.
Kebetulan Mama sendiri yang membukakan pintu. Langsung kuperkenalkan dia pada Mama. "Ini Bapak yang kemarin menolong Niken, Ma."
Mama tersenyum dan mengulurkan tangan. Tapi laki-laki itu tetap menunduk dalam-dalam seperti ingin menyembunyikan diri di balik topinya. Akhirnya Mama menarik kembali tangannya. "Mari masuk, Pak," ajaknya serba salah.
Perlahan laki-laki itu mengangkat wajah, lalu membuka topinya. Begitu mereka bertatapan kulihat wajah Mama berubah, seperti tengah berusaha mengenali.
"Apa kabar, Hes?" laki-laki itu berkata pelan.
Mama tiba-tiba terpekik kaget lalu menutup mulut dengan kedua tangannya. Wajahnya langsung pucat seperti kertas. Aku menatapnya tak mengerti. Ada apa ini?
"Mas Bambang?" kudengar suara Mama gemetar seperti menahan gejolak yang amat sangat di dadanya.
Laki-laki itu mengangguk. "Maaf telah mengagetkanmu. Tentu kamu tak mengira akan melihatku lagi. Terus terang tadinya aku juga tak berniat menemui kalian. Berhari-hari aku hanya berani memandang kalian dari jauh. Aku tak ingin mengusik ketentraman kalian. Apalagi setelah Niken bercerita tentang Papanya yang sudah meninggal."
Butir-butir air mata kontan meluncur mengaliri pipi Mama. "Maaf, Mas. Aku terpaksa mengarang cerita itu. Kamu tentu paham, tak mudah menjelaskannya pada mereka saat itu."
Laki-laki itu tersenyum getir. "Aku mengerti, Hes. Aku berterima kasih kamu telah membesarkan anak-anak kita dengan baik."
Blarrrrr!!!! ucapan terakhir itu seperti gelegar petir yang maha dahsyat di telingaku. Aku tersuruk beberapa langkah ke belakang. Perlu beberapa saat untuk meyakinkan diri bahwa aku tadi tidak salah dengar.
"Nik!" Mama memburuku, memelukku sebelum aku jatuh terduduk.
Kucubiti pergelangan tanganku. Sakit. Berarti ini bukan mimpi.
Duh, Gusti.... lelakon macam apa ini? Jadi ternyata anak yang dicarinya itu adalah aku? Jadi dia itu...
Pandanganku jadi nanar. Tulang-tulangku seperti baru dicopoti. Lemas. Khayalanku tentang seorang Papa yang terbang gagah di balik awan sekarang hancur berantakan. Ternyata Papaku cuma seorang perampok yang menghabiskan belasan tahun hidupnya di balik jeruji penjara.
Teman, jika kau jadi aku... apa yang akan kau lakukan sekarang?
Oleh : drackpack.multiply.com
**************
Jika kamu sudah selesai membaca "Cerpen Keluarga Sedih" di atas, sekarang saya mengajak kamu untuk membaca puisi air mata cinta dan puisi paling menyentuh hati dari blog Dunia Remaja Uptodate!
